empat puluh minggu

February 13, 2009

Hilang Jerat

Filed under: Wood — echaa @ 7:38 pm  Tagged

Saat itu kuning

kemudian memerah, dengan semburat ungu muda dimana mana

berubah menjadi warna muda

merah muda….

Sebelumnya hijau, begitu tua hingga nyaris tak berdaya lagi

hijau buruk

licin dengan lumut

Tanganku tergelincir

menoreh garis yang terputus sia sia

aah…dia tak peduli aku ingin hilang jeratnya

mendekap dengan bara nafsu yang tak lagi

ingat akal

Dan aku muak.. muak dan muntah tercecer

kumuh

aku, diriku, kotor…

Kembali dan berdiri lagi

buang semua hijau itu

buruk itu

Saat ini, …kuning

kemudian memerah, dengan semburat ungu muda dimana mana

berubah menjadi warna muda

merah muda….

————————

Perangkap yang kemarin

membaur dengan hidupku

tak terlihat lagi..

hilang jeratmu

meski kadang aku rindu….

————————

December 19, 2008

Version of Violence

Filed under: Root — echaa @ 5:40 pm  Tagged

A version of Violence that subtle from Alanis mind :

 Version of Violence

Coercing or leaving
Shutting down and punishing
Running from rooms, defending
Withholding, justifying

These versions of violence
Sometimes subtle sometimes clear
And the ones that go unnoticed
Still leave their Mark once disappeared

 

Diagnosing, analyzing
Unsolicited advice
Explaning and controlling,
Judging opining and meddling

 

These versions of violence
Sometimes subtle sometimes clear
And the ones that go unnoticed
Still leave their Mark once disappeared

 

This labeling
This pointing
This sensitive’s unraveling
This Sting I’ve been ignoring
I feel it way down way down

 

These versions of violence
Sometimes subtle sometimes clear
And the ones that go unnoticed
Still leave their Mark once disappeared

December 15, 2008

Kepala Ikan

Filed under: Dengar, Wood — echaa @ 3:22 pm

Siang itu, kepadaku yang sembari mengupas kulit kentang, Ibu bercerita satu hal yang menarik. Tentang kepala ikan. Bahwa dalam kondisi dua orang sudah tinggal bersama untuk sekian waktu yang lama bahkan belum bisa memahami keinginan satu sama lain.

“Setiap hari Istri selepas pulang bekerja menyiapkan makanan untuk disantap anak-anak dan suaminya. Hidangan tersebut diolah dengan tangannya sendiri. Sehingga timbul rasa iba apabila makanan tersebut tidak habis atau terbuang. Lagipula melihat keadaan kini, dimana semua serba mahal tentu sang Istri berpikir itu ‘pemborosan’, mubazir. Dan yang paling sering terbuang adalah kepala ikan. Sang Istri akhirnya selalu menghabiskan kepala-kepala ikan yang ‘dibuang’ atau tersisa dari pinggan makan anak-anaknya. Begitu selalu yang terjadi. Dan sang Suami tak luput memperhatikan hal itu. Melihat sang Istri selalu habis menyantap kepala-kepala ikan itu bahkan kepala-kepala ikan yang ada dipiring para anak, sang Suami pun berpikir istrinya sangat menyukai kepala ikan.

Dan tiba hari itu. Hari ulang tahun sang Istri. Hari itu semua bergembira. Anak-anak bahagia, ibu mereka masih dalam keadaan sehat. Sang Istri tidak meminta hadiah apapun. Melihat keluarganya dalam sehat dan lengkap merupakan hadiah tak ternilai untuk dirinya.

“Istriku, izinkan aku memberimu hadiah yang lebih spesial untukmu..” ujar sang Suami seraya tersenyum

Sang Istri tersenyum bahagia membayangkan akankah ada lingkaran berwarna emas untuknya tahun ini, sudah lama sekali tidak ada yang melingkar dijari manisnya semenjak terjual untuk biaya dokter saat Suaminya sakit dahulu.

“Tentu saja Suamiku…” jawabnya jujur. Dan, sang Suami menghilang kedalam kamar dan keluar membawa bingkisan berpita. “Untukmu. Karena aku tahu kau selalu menyukai ini.” kata Sang Suami.

Sang Istri segera membuka bingkisan itu sementara anak-anak mengelilinginya. Kado itu terbuka dan meledaklah tangis sang Istri. Satu kepala ikan kakap. Hadiah dari Suami tercinta…..Dan sang Suami melongo keheranan. “

Hm…contoh yang menarik. Kenapa suaminya tidak berpikir ya? Tidak berpikir bahwa istrinya melahap seluruh kepala ikan agar tidak terbuang percuma, agar uang yang dikeluarkan untuk belanja tidak semena-mena terhambur…,tapi justru dia hadiahkan kepala ikan untuk istrinya…Ooh…’bodoh’nya….

Tapi, satu catatan untuk sang istri menurutku, beritahu anak-anak untuk tidak menyisakan makanan. Apabila mereka tidak meyukainya, lebih baik tidak diambil atau dimakan. Daripada terbuang percuma kan….

October 7, 2008

Ternyata Panik

Filed under: Root — echaa @ 7:14 pm  Tagged

PANIK.

Ternyata aku panik. Padahal sebelumnya aku pikir tidak perlu panik. Tapi, aku panik. Panik. Panik.

Saat mendebarkan itu semakin mendekat. Aku tidak mengerti siapa yang mulai mengejar. Saat mendebarkan itu atau diriku sendiri. Dan, banyak yang belum terselesaikan. Ough! Sah saja kalau aku sebutkan ya…perkara printilan yang printil-printil dan tiba-tiba membuntut memanjang.

wedcard

Dia masih belum ada dikota ini kembali. Aku mulai merasa tertekan saat teman bertanya hal yang sama dan sudah mulai memulai sedikit demi sedikit. Sedangkan aku…apa aku terlalu menganggap gampang ya?

Menyadari hal tersebut akhir-akhir ini. Saat detak teratur (yang berhasil aku atur) mulai riuh tak teratur.

Bagaimana dengan ini? tanyanya.

? jawabku.

Belum pesan? tanyanya.

Ng…sudah. jawabku.

Sudah sekaligus dengan kartu ucapan? tanyanya.

Loh?sekaligus dengan itu ya? jawab dan tanyaku.

Iya…dan sudah pesan yang itu? tanyanya lagi.

Masa sih mesti begitu? jawab dan tanyaku dengan nada tak percaya.

Aku belum pesan yang dia maksud.

Ya ampuuun….jadi apa yang sudah selesai? tanyanya.

Hah?! jawab dan tanyaku. Temanku tertawa dan menggelengkan kepala.

Banyak ternyata. Mesti dilist lagi. Mesti di cek lagi. Mesti dan mesti…ough….

September 10, 2008

Retak, kamu…

Filed under: Wood — echaa @ 4:31 pm  Tagged

Riuh rendah suara disana tak lagi menyurutkan langkahmu. Kamu ingin membawanya. Kamu menyesal mengapa tidak sedari dulu kau periksa sekitarmu. Ada dia. Dia yang baru terlihat saat kau merasa mantap melangkahkan kakimu dengan yang lain. Yang lain yang kau pikir adalah segalanya. Sesuatunya pasti dahulu. Tiada yang meragukan kau dan yang lain. Tiada dia. Dia yang lelehkan hatimu. Kau mendengus, nyaris tak peduli. Nyaris tak ingin melihat dia. Tapi dia selalu ada kini. Didepanmu. Dibelakangmu. Dikirimu. Dikananmu. Kemarin. Esok. Dia dimanapun kau ingin. Dia adalah hasrat yang tak tumpah meski diisi. Dia adalah gejolak yang tak padam dihantam airmata. Dia begitu padat dengan inti jiwamu. Kau merasa. Kau takut. Kau terpojok. Kau bersalah…

Ah, kau ingat janjimu. Janji pada yang lain, untuk segera pulang kerumah yang kau sendiri siapkan. Tapi dia ada di bayangan benakmu. Dia mengikuti ragamu berjalan. Dia ada saat kau dengan yang lain. Dia selalu ditengah dirimu dan yang lain. Kau ragu. Tapi tak membantah. Kau diam tapi menerima. Kau teriak tapi bisik. Kau pecahkan dia tapi kau menangis. Kau ingin dia tapi ada yang lain. Keburu janji dengan segala sumpah didunia. Kau hilang arah. Hilang bentuk. Kau hantu.

Maka aku beri kau saran. Bermainlah kau dan dia di neraka….

Next Page »

Powered by WordPress.